Headlines News :
.
Home » , , , , » Mengasah Motorik Anak Usia 0-2 tahun (Part.1)

Mengasah Motorik Anak Usia 0-2 tahun (Part.1)

Postingan ini saya ambil dari serial buku bacaan untuk orang tua, yang diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional. Judul postingan ini saya modifikasi agar tidak terlalu panjang, dari judul aslinya: Mengasah Keterampilan Bergerak Anak Usia 0-2 tahun.
Buku ini ditulis oleh: Sri Rahayu, S.Gz dan Alzena Masykouri, M. Psi.
Postingan sengaja saya potong menjadi tiga bagian, biar bacanya tidak terlalu panjang. Dan berikut ini isi lengkapnya:
kecerdasan anak, motorik anak, parenting, kreativitasMengasah Keterampilan Bergerak Anak Usia 0-2 tahun
Setiap orangtua pasti menginginkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang optimal; sehat, ceria, dan cerdas. Untuk mempersiapkan masa depan anak, ibu dan ayah harus melakukannya sejak dini. Pengasuhan anak sebenarnya adalah suatu kegiatan alami yang telah dijalani manusia sejak awal adanya kehidupan. Namun di masa sekarang, tuntutan akan keahlian yang harus dikuasai oleh seseorang semakin berkembang. Sebagai orangtua, kita pun berusaha agar ananda memiliki keterampilan yang membuatnya dapat mandiri dalam kehidupan sehari-hari.
Buku berseri ini bertujuan agar ibu dan ayah dapat memahami aspek perkembangan anak pada enam tahun pertama kehidupannya. Dengan pemahaman tersebut, diharapkan ibu dan ayah dapat mendampingi dan menyediakan lingkungan yang lebih baik untuk anak mengembangkan kemampuannya. Terdapat empat aspek utama perkembangan anak yang dibahas dalam serial buku ini, yaitu: aspek gerakan kasar dan gerakan halus, bahasa, kecerdasan, dan sosial-emosi. Setiap aspek perkembangan memiliki keterkaitan satu sama lain. Pemahaman yang menyeluruh dan seimbang terhadap aspek perkembangan akan lebih efektif dibandingkan fokus terhadap satu aspek saja. Setiap kegiatan yang diberikan di dalam buku ini bisa berdampak pada beberapa aspek dan bermanfaat bagi perkembangan kemampuan anak.

Ibu dan ayah dapat memahami setiap aspek perkembangan sesuai dengan usia anak. Khusus pada buku ini akan dibahas mengenai aspek gerakan kasar dan gerakan halus pada anak usia 0 sampai 2 tahun. Ketika lahir kemampuan gerak seorang bayi memang sangat terbatas, tapi ketika berusia sekitar setahun anak sudah dapat jalan sendiri dan berkeliling melakukan penjelajahan di lingkungannya seperti naik turun tangga. Di usia 2 tahun, kebanyakan anak sudah menguasai keterampilan melompat dan memanjat dengan cukup baik.
Penting diingat, tujuan utama memahami tahap perkembangan anak adalah agar kita dapat memberikan perangsangan secara berhasil guna, dengan berbagai cara dan variasi. Untuk itu, ibu dan ayah dituntut kreatif dalam menciptakan kegiatan-kegiatan yang merangsang perkembangan anak. Contoh kegiatan yang ada di dalam buku ini dapat dikembangkan sesuai dengan keadaan masing-masing anak. Setiap anak adalah unik dan kita harus dapat memahami keunikannya. Hindari memaksa anak melakukan kegiatan yang barangkali belum dikuasainya. Apalagi bila ibu dan ayah merasa bahwa anak lain yang seusia dengan anak sudah dapat melakukannya. Bila anak belum dapat melakukan kegiatan yang dirangsangkan atau terlihat belum tertarik, cobalah kegiatan yang sama beberapa kali dengan diberi rentang waktu.
Di dalam pembahasan mengenai aspek gerakan kasar dan gerakan halus, buku ini akan memberikan contoh perangsangan dan kemampuan yang dapat dikuasai anak pada usia tertentu. Penjelasan tersebut tidak bersifat kaku atau suatu keharusan. Ingat, setiap anak adalah unik dan hasil dari perangsangan dapat berbeda antar-anak.


PERKEMBANGAN GERAKAN KASAR DAN GERAKAN HALUS PADA USIA 0-2 TAHUN
Pada usia ini, perkembangan kemampuan gerakan kasar dan gerakan halus seorang anak terlihat sangat pesat dan menakjubkan. Bayangkan, dari seorang bayi yang tidak berdaya dan tidak mampu mengendalikan gerakannya, dalam waktu 12 bulan, anak mengembangkan kemampuan fisik yang luar biasa. Kuncinya terletak pada kematangan fisik dan saraf-sarafnya. Buktinya, dengan latihan sekeras apa pun, kita tidak akan bisa membuat bayi berusia 2 bulan untuk berjalan, meskipun kemampuan melangkahkan kaki sudah dimiliki bayi sejak lahir. Jadi, perkembangan fisik tidak semata karena latihan, tetapi juga melibatkan faktor kesiapan fisik.
Kemampuan gerakan kasar adalah kemampuan manusia menggerakkan bagian tubuh yang berfungsi untuk berpindah tempat, seperti merangkak, berjalan, berlari, melompat. Agar dapat berpindah tempat, manusia harus memiliki kemampuan dasar seperti duduk dan menegakkan tubuh. Tidak mungkin seseorang yang hanya mampu berbaring lalu dapat berjalan tanpa bantuan. Nah, untuk dapat melakukan kegiatan berpindah
tempat, maka kaki menjadi bagian tubuh yang paling penting. Sedangkan kemampuan gerakan halus melibatkan mata dan tangan untuk dapat melakukan kegiatan yang berkaitan dengan gerakan tangan. Misalnya, untuk mengambil suatu benda, menulis, menggambar, dan kegiatan lainnya yang menggunakan tangan serta kerja samanya dengan mata.
Agar perkembangan fisiknya optimal, anak memerlukan kesempatan untuk melatih kemampuannya. Anak yang memiliki kesempatan untuk merangkak secara bebas dapat mengembangkan kemampuan merangkak yang lebih baik dibandingkan anak seusianya yang hanya sesekali dibiarkan merangkak. Demikian juga ketika anak belajar menaiki dan menuruni tangga. Strategi yang paling baik adalah memberikan semangat kepada anak untuk melatih kemampuannya dengan tetap mengingat perkembangan fisik dan saraf-sarafnya.

KEMAMPUAN MENGENDALIKAN GERAKAN
Setiap bayi memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda-beda, namun secara umum kemampuan bayi untuk mengendalikan gerakan tubuhnya berkembang selama 2 tahun pertama. Kemampuan mengendalikan gerakan ini terbagi menjadi dua bentuk.
a. Dari arah kepala ke kaki.
Bayi mengembangkan pengendalian gerakan dari bagian atas tubuhnya ke bagian kaki. Coba perhatikan, bayi pasti mampu menahan posisi kepalanya agar tegak sebelum ia mampu menahan posisi badannya untuk duduk. Bayi juga harus bisa menahan badannya untuk tegak ketika duduk, sebelum ia bisa berjalan.
b. Dari dada ke luar.
Bayi mengembangkan kemampuan mengendalikan gerakan dari bagian tengah tubuhnya (kepala, dada, pinggang/perut) terlebih dahulu sebelum ia mampu mengendalikan gerakan tangan dan kakinya. Bayi dapat mengangkat dadanya dari posisi tengkurap sebelum akhirnya ia bisa menjangkau mainannya dengan tepat. Bayi juga akan mengembangkan kemampuannya mengambil benda dengan jari-jari tangannya sebelum ia mampu menendang bola dengan kakinya.
Kedua bentuk pengendalian gerakan ini sejalan dengan perkembangan otaknya. Dengan kata lain, bagian dari otak yang memiliki peranan dalam pengendalian gerakan kepala dan dada berkembang lebih cepat dibandingkan bagian otak yang berhubungan dengan gerakan lengan dan kaki.
Bila kita memahami perkembangan kemampuan pengendalian gerakan ini, kita akan menyadari bahwa untuk mampu berjalan, anak memerlukan kematangan dari segala bagian anggota tubuhnya, tidak hanya kakinya. Anak yang kakinya sudah kuat untuk melangkah dan menahan bobot tubuhnya, namun ia masih belum mampu untuk mengarahkan gerakan kepala dan menahan badannya agar tegak, pasti tidak bisa berjalan. Anak membutuhkan kestabilan tubuh bagian atas dan pengendalian pinggul agar ia dapat seimbang ketika berjalan. Jadi sebenarnya, anak belajar untuk bisa berjalan, jauh sebelum kaki-kakinya kuat, yaitu ketika ia baru lahir dan belajar mengangkat kepalanya untuk melihat lingkungan sekelilingnya.

SETIAP ANAK ADALAH UNIK
Inilah salah satu bagian yang menakjubkan dari perkembangan bayi. Meskipun kebanyakan dari mereka melalui tahapan perkembangan fisiknya pada usia yang setara (misalnya, usia 6 bulan dapat duduk tegak sendiri), namun variasinya sangat besar dalam cara menguasai kemampuan itu. Contoh paling jelas terlihat ketika bayi merangkak dan berjalan. Bayi ibu dan ayah mungkin lebih senang merangkak dengan gaya merangkak berlutut seperti merangkak pada umumnya, sedangkan bayi lain merangkak dengan cara mengangkat lututnya sehingga ia bergerak hanya dengan tangan dan kakinya. Dua-duanya merangkak, tapi dengan caranya sendiri. Yang penting adalah tujuan perkembangannya tercapai. Jangan terlalu cemas bila ananda tidak mengikuti pola secara tepat, karena pada akhirnya ia juga bisa menguasai kemampuan tersebut dengan caranya sendiri.

KERJA SAMA TANGAN DAN MATA = GERAKAN HALUS
Kemampuan gerakan halus melibatkan mata dan tangan untuk dapat melakukan kegiatan yang berkaitan dengan gerakan tangan. Namun ingat, meski kemampuan gerakan halus berkembang, anak belum memahami akibat dari kegiatan yang dilakukannya. Itu sebabnya anak dapat dengan tenang merampas kacamata yang sedang kita kenakan, atau merobek-robek kertas yang ia temukan di atas meja. Perilaku ini wajar dan disebabkan oleh rasa penasaran anak yang muncul terhadap lingkungan di sekitarnya. Sebagai orang dewasa, ibu dan ayah diharapkan mengerti dan membantu anak agar dapat melakukan proses penjelajahan dan latihan secara efektif dan aman. Untuk beberapa saat, ibu dan ayah harus terbiasa dengan rumah yang berantakan karena diacak-acak oleh anak. Tahan emosi dan kemarahan kita, karena dapat mengakibatkan anak takut dan menolak untuk menjelajah. Padahal anak perlu berlatih agar kemampuannya berkembang dengan baik.

KEMAMPUAN KERJA SAMA DAN KESEIMBANGAN
Di awal penguasaan kemampuan geraknya, anak terlihat masih canggung dan sering tidak seimbang sehingga jatuh. Kondisi ini wajar karena anak baru saja menguasai keterampilan geraknya. Ibu dan ayah tidak perlu khawatir berlebihan apalagi sampai melindungi anak agar ia tidak jatuh. Sikap demikian merugikan anak karena ia tidak mengembangkan kepercayaan diri bahwa ia mampu melakukan keterampilannya sendiri. Ingatlah, semua kemampuan didapatkan dari proses, tidak instan. Bantulah anak agar ia dapat melatih kemampuannya dengan lebih baik.

FAKTOR KEAMANAN
Agar anak dapat berkembang dengan baik, ibu dan ayah harus menyediakan lingkungan yang aman. Anak memerlukan area untuk melatih kemampuan geraknya, tidak hanya di dalam rumah, tetapi juga di luar rumah. Selain tetap mengawasi tingkah polah anak, ibu dan ayah juga harus memastikan keamanan peralatan yang digunakan anak untuk bermain. Demikian pula dengan benda-benda yang berada di sekitar anak, pastikan tidak ada yang membahayakan, terutama yang berukuran kecil atau sudut-sudut yang tajam.
(Bersambung)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

.
 
Support : Zaahir Shop | E-Kids | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Diary Zaahir | Diary Ummi dan Abi untuk Generasi Cemerlang - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template